<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Majalah Madina</title>
	<atom:link href="http://majalahmadina.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalahmadina.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Sep 2011 09:54:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='majalahmadina.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Majalah Madina</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://majalahmadina.wordpress.com/osd.xml" title="Majalah Madina" />
	<atom:link rel='hub' href='http://majalahmadina.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa Farid Gaban</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2011/03/29/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa-farid-gaban/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2011/03/29/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa-farid-gaban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 02:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Jurnalisme, Menyuarakan yang Tak Bersuara Posted by Ken Miryam Vivekananda Fadlil Featured, Kasatmata Friday, March 11th, 2011 Rute Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Gambar: www.zamrud-khatulistiwa.or.id.&#160; “Selama ekspedisi ini, kami tidak pernah menemui satu orang pejabat pun. Menurut kami, petani dan nelayan adalah sumber berita, bukan pejabat. Lagi pula, ruh perjalanan ini adalah jurnalisme, to give voice to &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2011/03/29/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa-farid-gaban/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=564&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2011/03/29/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa-farid-gaban/"><img src="http://img.youtube.com/vi/9iPDK4LoKqE/2.jpg" alt="" /></a></span>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2011/03/29/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa-farid-gaban/"><img src="http://img.youtube.com/vi/HpKRsNqGrXk/2.jpg" alt="" /></a></span>
<h1>Jurnalisme, Menyuarakan yang Tak Bersuara</h1>
<p>Posted by <a title="Posts by Ken Miryam Vivekananda Fadlil" href="http://www.lenteratimur.com/author/ken-miryam-vivekananda-fadlil/">Ken Miryam Vivekananda Fadlil</a> <a title="View all posts in Featured" rel="category tag" href="http://www.lenteratimur.com/category/featured/">Featured</a>, <a title="View all posts in Kasatmata" rel="category tag" href="http://www.lenteratimur.com/category/kasatmata/">Kasatmata</a> Friday, March 11th, 2011</p>
<div id="attachment_4306"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Peta-Jalur.jpg"><img title="Rute Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Peta-Jalur.jpg" alt="" width="584" height="355" /></a>Rute Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Gambar: www.zamrud-khatulistiwa.or.id.&nbsp;</p>
</div>
<p>“Selama ekspedisi ini, kami tidak pernah menemui satu orang pejabat  pun. Menurut kami, petani dan nelayan adalah sumber berita, bukan  pejabat. Lagi pula, ruh perjalanan ini adalah jurnalisme, <em>to give voice to the voiceless</em> (menyuarakan yang tak bersuara-red).”</p>
<p><span id="more-564"></span></p>
<p>Malam itu, Selasa (8/3), di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen  Jakarta, cerita demi cerita mengalir lancar dari Farid Gaban. Ia tak  sendiri. Ada Ahmad Yunus di dekatnya. Keduanya jurnalis yang berasal  dari bentang generasi berbeda. Yunus, pemuda asal Bandung, Jawa Barat,  lahir pada awal 1980-an, sementara Farid lahir dua puluh tahun  sebelumnya, di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah.</p>
<p>Dari pertengahan 2009 setakat pertengahan 2010, keduanya mengarungi  10 ribu kilometer lebih perjalanan keliling Kepulauan Indonesia dengan  menggunakan dua sepeda motor. 80 pulau mereka sambangi; menembus  Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Bali, dan  kembali ke Jawa tempat mereka berdomisili. Mungkin ini setara dengan  jarak antara Inggris hingga Iran atau Afghanistan.</p>
<p>Jika dalam rentang Inggris hingga Iran itu ada nampak kemajuan  Perancis, Jerman, Austria, Swiss, Italia, atau Turki, apa yang dilihat  dan disampaikan Farid dan Yunus bak bumi dan langit. Kabar yang  terlontar tak melulu berupa molek gemulainya alam, pohon yang menyiur,  ombak yang berdesir, tetapi juga kabar-kabar tak menyenangkan untuk  didengar.</p>
<p>“Memang tak semua cerita indah. Tapi inilah Indonesia yang apa adanya. Indonesia yang sederhana,” ujar Farid.</p>
<p>Melalui pemutaran video dokumenter perjalanan keduanya yang berdurasi  45 menit, yang dipandu oleh penyiar stasiun televisi Jakarta, Metro TV,  Najwa Shihab, kabar tak sedap teruntai dimana-mana di luar Jakarta.  Mereka menjadi saksi atas kemiskinan, keterisoliran, dan ketidakpedulian  yang terasa mengental pada pulau-pulau itu. Pulau-pulau yang  termarjinalkan.</p>
<p>Farid memaparkan contohnya kala berada di Taman Nasional Kutai. Saat  itu, mereka harus memasuki hutan selama delapan jam hanya untuk mencari  orang utan. Sedemikian lama mencari, tak kunjung mereka temukan. Kondisi  pembalakan hutan di Kutai telah membuat orang utan kehilangan hutannya  (saksikan film etnomusikal <a href="http://www.lenteratimur.com/hutanku-meratap/" target="_blank"><em>Hutanku Meratap</em></a>).</p>
<div id="attachment_4311"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Hutan-Kalimantan-Timur.jpg"><img title="Hutan di Kalimantan Timur" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Hutan-Kalimantan-Timur.jpg" alt="" width="596" height="231" /></a>Hutan di Kalimantan Timur. Foto: LenteraTimur.com/TM. Dhani Iqbal.&nbsp;</p>
</div>
<p>Selain itu, contoh lain yang dikemukakan Farid adalah betapa tidak  dikelolanya kekayaan alam di Mentawai, Sumatera Barat. Ia menyayangkan  tidak adanya perguruan tinggi untuk mengkaji biologi atau kajian tentang  keanekaragaman endemik di Mentawai.</p>
<p>“Banyak sekali berita yang belum dieksplorasi oleh kita sendiri,” kata Farid seperti menyesalkan.</p>
<p>Terkait dengan begitu kayanya kisah yang semestinya dapat  disampaikan, Yunus menyayangkan segala keterbatasan yang mereka miliki.</p>
<p>“Kami sebenarnya ingin sekali dapat masuk ke pedalaman, namun seringkali waktu kami dibatasi dengan jadwal kapal,” keluh Yunus.</p>
<p>Ambruknya kehidupan sosial di banyak daerah namun tak banyak  diberitakan lantas memberikan refleksi bahwa media massa selama ini  terlalu dekat dengan kekuasaan, namun luput memberitakan kabar-kabar  dari masyarakat. Hal inilah yang dikoreksi oleh Farid dan Yunus dalam  ekspedisi mereka mengelilingi Indonesia.</p>
<p>“Perjalanan ini adalah perjalanan jurnalistik. Dulu, saya lebih  banyak meliput dunia internasional dibanding meliput tanah air sendiri.  Saya merasa tidak mengenal Indonesia. Ini salah satu alasan yang  mendorong saya untuk melakukan ekspedisi ini,” aku Farid.</p>
<p>Hal ini diamini juga oleh Yunus.</p>
<p>“Indonesia ini terlalu luas. Selama ini kita hanya seolah-olah saling  mengenal antara pulau satu dengan pulau lain, padahal tidak.”</p>
<p>Dalam tulisan Farid di situs ekspedisi ini,  www.zamrud-khatulistiwa.or.id, memang tertulis suatu asas jurnalisme  yang mereka anut.</p>
<p>“Jurnalisme, bagi kami, punya kewajiban menyuarakan orang-orang yang  tak bersuara atau mereka yang suaranya jarang didengar. Tapi, dalam  media massa kita, berita cenderung secara keliru hanya didefinisikan  sebagai suara pejabat atau politisi. Mereka sudah terlalu banyak  disuarakan. Sementara, suara orang kebanyakan, petani atau nelayan,  apalagi di pulau-pulau terpencil, jarang sekali terdengar.”</p>
<div id="attachment_4308"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Berpisah-di-Cirebon-Akhir-dari-Perjalanan.jpg"><img title="Ahmad Yunus dan Farid Gaban" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Berpisah-di-Cirebon-Akhir-dari-Perjalanan.jpg" alt="" width="558" height="418" /></a>Ahmad Yunus (kiri) dan Farid Gaban menelusuri Indonesia dengan sepeda motor. Foto: www.zamrud-khatulistiwa.or.id.&nbsp;</p>
</div>
<p>Farid dan Yunus relatif bukan pemain baru di dunia jurnalistik.  Selama 25 tahun Farid berkarir dalam dunia wartawan, ia pernah bekerja  di sejumlah media Jakarta, diantaranya Majalah Tempo dan Republika. Jam  terbangnya dibuktikan saat meliput Perang Bosnia pada 1992, runtuhnya  Tembok Berlin pada 1989, pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 1988,  serta ditambah pula dengan anugerah <em>fellowship</em> yang  diperolehnya dari The Asia Foundation, USA, 1988. Sementara, rekan  perjalanannya, Yunus, adalah seorang wartawan muda yang pernah  berkecimpung di sejumlah media massa, diantaranya di sindikasi berita  Pantau di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>“Usai perjalanan ini, saya mendapati bahwa saya ternyata tidak tahu  apa-apa tentang Indonesia. Saya rasa, semakin banyak kita tahu tentang  suatu tempat, semakin kita tidak tahu apa-apa,” ujar Farid pelan.</p>
<p><strong>I</strong><strong>nspirasi</strong><br />
Inspirasi untuk melakukan perjalanan menelusuri kawasan Indonesia bukan  muncul begitu saja. Dalam situs www.zamrud-khatulistiwa.or.id, tertulis  bahwa inspirasi terbesar dan terkuat untuk ekspedisi ini datang dari dua  buku, yakni <em>The Malay Archipelago</em> (yang oleh penerbit Indonesia, entah kenapa, diterjemahkan menjadi Kepulauan Nusantara) karya Alfred Russel Wallace (1896) dan <em>Mengejar Pelangi Di Balik Gelombang</em> (2004) karya Fazham Fadlil.</p>
<p>“Seperti McCandless dalam <em>Into The Wild</em>, Fazham Fadlil  mencampakkan kehidupan nyaman dua puluh tahun di New York (Amerika  Serikat), untuk kembali ke kampung halamannya, di Kepulauan Riau,  menggunakan kapal layar kecil melintasi Samudera Pasifik. Sendirian  saja… Perasaan iri akan kefasihan Wallace dalam reportasenya tentang  alam-manusia Nusantara, serta simpati kami pada rasa frustrasi  Christopher McCandless akan modernitas semu, kepekaan sosial Che  Guevara, dan kegilaan Fazham Fadlil yang menggumpal menjadi satu  motivasi besar bagi kami untuk berangkat, melupakan sejenak  ketakutan-ketakutan yang mungkin akan kami hadapi di perjalanan,”  demikian tulis Farid di situs tersebut.</p>
<p><strong>Perjalanan</strong><br />
Ekspedisi keliling Indonesia yang dilakukan oleh Farid Gaban dan Ahmad  Yunus didokumentasikan melalui video berdurasi 45 menit, yang  dimampatkan dari total durasi tujuh puluh jam. Video yang diproduksi  oleh Watchdoc dan didukung oleh banyak pihak ini menampilkan suatu  perjalanan demikian sederhana, namun mampu menyampaikan sesuatu yang  demikian kaya.</p>
<p>Dalam melakukan penelusuran Indonesia ini, Farid dan Yunus didukung  oleh dua sponsor, setelah sebelumnya mencoba mendekati puluhan calon  sponsor lainnya.</p>
<p>“Selama ekspedisi ini, jika dirata-rata, setiap hari saya dan Yunus  menghabiskan sekitar 200 ribu rupiah sehari. Selama sepuluh bulan,  terhitung dengan pembelian peralatan pendukung, ekspedisi kami ini  menghabiskan 350 juta rupiah,” ungkapFarid.</p>
<p>Saat berada di Kalimantan, keduanya sempat kehabisan uang. Alhasil,  ekspedisi mereka juga terpaksa tertunda di tengah-tengah selama dua  bulan.</p>
<p>“Saya masih ingat betul. Saya harus pinjam uang dua juta ke Dandhy  untuk ongkos pesawat pulang,” kenang Farid sambil tertawa. Dandhy adalah  produser Watchdoc.</p>
<p>Demi alasan biaya pulalah ternyata mereka memilih sepeda motor  sederhana, Honda Win 100 cc yang dibeli bekas, sebagai kendaraan  ekspedisi.</p>
<p>“Sepeda motor Yunus buatan 2005, sementara yang saya kendarai lima  tahun lebih tua umurnya dari itu. Motor kami kalah cepat dari  sepeda-sepeda motor bebek 125 cc yang banyak beredar di pasaran. Tapi,  memang bukan kecepatan yang kami cari, tapi ketangguhan,” jelas Farid.</p>
<p>Dalam film dokumenter yang diputar, tergambar betapa roda kedua  sepeda motor tua mereka memang tangguh melintasi aspal, jalan berbatu,  berlumpur, serta sungai, juga bukit-bukit tinggi.</p>
<div id="attachment_4315"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Yunus-Menulis-di-Geladak-Kapal-Kelas-Ekonomi.jpg"><img title="Ahmad Yunus Menulis di Geladak Kapal Kelas Ekonomi" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Yunus-Menulis-di-Geladak-Kapal-Kelas-Ekonomi-300x199.jpg" alt="" width="370" height="245" /></a>Ahmad Yunus Menulis di geladak kapal kelas ekonomi. Foto: www.zamrud-khatulistiwa.or.id.&nbsp;</p>
</div>
<p>Tampak jelas pula kedua lelaki ini berganti turun naik kapal rotan,  kapal feri penyeberangan, kapal kayu angkutan antarpulau, kapal  pengangkut sayur, kapal perintis swasta yang disubsidi negara untuk  melayani rute ke pulau-pulau terpencil, dan juga kapal besar milik PT.  Pelabuhan Indonesia yang mengangkut ratusan orang.</p>
<p>Petualangan Farid dan Yunus mengantar mereka bermalam di  kampung-kampung nelayan dan petani, serta beberapa kali berkemah di  hutan pinggir pantai.</p>
<p>Gambar Farid dan Yunus yang mesti tidur berhari-hari di geladak,  bawah tangga, di sekoci, di atas tumpukan rotan atau di atas timbunan  karung jagung, atau di samping ikan hasil tangkapan, mengundang  ketakziman akan upaya mereka dalam mewartakan suatu informasi dari ranah  yang sepi. Apalagi, risiko yang mereka tanggung cukuplah tinggi.</p>
<p>“Kami berjalan tanpa beban apa-apa. Semua sudah kami pasrahkan,” ucap Yunus sambil mengangkat tangannya ke arah langit.</p>
<p>Selama perjalanan, keduanya menganggap bahwa para penghuni pulau,  siapa pun, tidak berbeda dengan mereka. Sama-sama manusia. Yang mereka  coba lakukan hanyalah melebur dengan masyarakat. Mereka tanggalkan  identitas kewartawanan dengan tidak menjadi siapa-siapa. Rupanya, memang  dengan cara demikianlah mereka berhasil mendapat cerita yang lebih  banyak dan lebih jujur.</p>
<p>Untuk menuliskan banyak kabar tersebut, kedisiplinan menjadi kunci.  Usai melakukan peliputan di suatu tempat atau wawancara, proses  penulisan harus segera dilakukan. Tak boleh ditunda-tunda.</p>
<p>“Tantangan terbesar dalam ekspedisi ini adalah ketika harus segera  menulis. Selesai melakukan perjalanan, kita harus langsung  mendokumentasikan. Untuk itu, satu-satunya jalan adalah harus disiplin  untuk segera menulis, tidak boleh menunda. Tantangan lainnya lagi adalah  mencari hal-hal menarik dari setiap pulau.”</p>
<p>Menurut Farid, Yunus memiliki kelebihan dalam hal ini. Ia teruji  dapat menulis dalam kondisi apapun, bahkan di tengah keramaian. Yunus  dapat menulis di atas kapal, di benteng, dan dimana saja.</p>
<p>“Setiap selesai satu perjalanan, kita langsung <em>upload</em> foto  di facebook. Dari sanalah kita mendapatkan reaksi. Reaksi inilah yang  kemudian menyemangati kami untuk terus menceritakan lebih banyak, lagi,  dan lagi,” tutur Farid.</p>
<p>Beberapa kisah perjalanan mereka juga dipublikasikan langsung oleh  beberapa media. Sebut saja situs Berita Lingkungan dan juga sebuah radio  di Brisbane, Australia.</p>
<p>“Kami juga mendapat masukan tentang lokasi mana yang sebaiknya  dikunjungi atas saran teman-teman di facebook. Saya pikir ini adalah  ekspedisi pertama yang dilakukan secara interaktif,” tutur Farid.</p>
<div id="attachment_4322"><a href="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Motor-Zamrud-Khatulistiwa-saat-Menyeberang-ke-Tarakan.jpg"><img title="Motor Zamrud Khatulistiwa" src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Motor-Zamrud-Khatulistiwa-saat-Menyeberang-ke-Tarakan.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a>Motor Zamrud Khatulistiwa saat Menyeberang ke Tarakan. Foto: www.zamrud-khatulistiwa.or.id.&nbsp;</p>
</div>
<p>Dengan bantuan tim pendukung ekspedisi ini, seluruh hasil liputan  Farid dan Yunus yang telah terdokumentasikan di website menjadi  karya  jurnalistik yang dapat digunakan oleh siapa pun, tanpa kecuali. Syarat  penggunaannya hanya satu; mencantumkan nama dan sumber. Farid menyatakan  bahwa tidak ada hak cipta (<em>copyright</em>) untuk seluruh hasil ekspedisi ini. Semua digratiskan untuk digunakan oleh masyarakat.</p>
<p>“Semua bisa menyebarluaskan. Kami tidak mencari uang dari hasil  ekspedisi ini. Kami yakin kami bisa menghasilkan uang dari sisi yang  lain. Biar miskin, tapi sombong,” kelakar Farid yang disambut gelak tawa  dan riuh tepuk tangan para undangan yang hadir malam itu.</p>
<p>Masing-masing dari keduanya juga akan menerbitkan buku sebagai hasil  reportase dari ekspedisi ini. Harapannya, perjalanan mereka mampu  menginspirasi perjalanan-perjalanan yang dilakukan kaum muda Indonesia  lainnya untuk mengabarkan tentang Indonesia, yang kaya raya sekaligus  rusak di sana sini.</p>
<div>VN:F [1.9.6_1107]</div>
<div>
<div>
<div id="article_loader_4305">
<div>
<div>please wait&#8230;</div>
</div>
</div>
</div>
<div>
<div id="gdr_text_a4305">Rating: 3.7/<strong>5</strong> (3 votes cast)</div>
</div>
</div>
<div>VN:F [1.9.6_1107]</div>
<div>
<div>
<div id="gdsr_thumb_text_4305_a">Rating: <strong>+3</strong> (from 3 votes)</div>
</div>
</div>
<p>Jurnalisme, Menyuarakan yang Tak Bersuara, 3.7 out of 5 based on 3 ratings</p>
<p><small><strong>Short URL</strong>: http://www.lenteratimur.com/?p=4305</small></p>
<div>
<p><a href="http://digg.com/submit?phase=2&amp;url=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/&amp;title=Jurnalisme,%20Menyuarakan%20yang%20Tak%20Bersuara"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/digg.png" alt="" /></a> <a href="http://del.icio.us/post?url=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/&amp;title=Jurnalisme,%20Menyuarakan%20yang%20Tak%20Bersuara"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/delicious.png" alt="" /></a> <a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/&amp;t=Jurnalisme,%20Menyuarakan%20yang%20Tak%20Bersuara"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/facebook.png" alt="" /></a> <a href="http://www.google.com/bookmarks/mark?op=edit&amp;bkmk=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/&amp;title=Jurnalisme,%20Menyuarakan%20yang%20Tak%20Bersuara"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/googlebookmark.png" alt="" /></a> <a href="http://sphinn.com/submit.php?url=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/&amp;title=Jurnalisme,%20Menyuarakan%20yang%20Tak%20Bersuara"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/sphinn.gif" alt="" /></a> <a href="http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/&amp;title=Jurnalisme,%20Menyuarakan%20yang%20Tak%20Bersuara"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/stumbleupon.png" alt="" /></a> <a href="http://technorati.com/faves?add=http://www.lenteratimur.com/jurnalisme-menyuarakan-yang-tak-bersuara/"><img src="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/technorati.png" alt="" /></a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/564/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=564&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2011/03/29/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa-farid-gaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Peta-Jalur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rute Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Hutan-Kalimantan-Timur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hutan di Kalimantan Timur</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Berpisah-di-Cirebon-Akhir-dari-Perjalanan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ahmad Yunus dan Farid Gaban</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Yunus-Menulis-di-Geladak-Kapal-Kelas-Ekonomi-300x199.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ahmad Yunus Menulis di Geladak Kapal Kelas Ekonomi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/uploads/2011/03/Motor-Zamrud-Khatulistiwa-saat-Menyeberang-ke-Tarakan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Motor Zamrud Khatulistiwa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/digg.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/delicious.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/facebook.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/googlebookmark.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/sphinn.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/stumbleupon.png" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lenteratimur.com/wp-content/themes/lenteratimur/images/technorati.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Mekkah sudah di Hati</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/11/12/ketika-mekkah-sudah-di-hati/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/11/12/ketika-mekkah-sudah-di-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:33:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita hangat]]></category>
		<category><![CDATA[IKLAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Catatan FB oleh Hikmat Darmawan Rindu Mekkah, rindu Ka’bah, adalah rindu rumah bagi jiwa. Umat Islam setidaknya punya waktu lima kali sehari buat berjumpa Allah, di mana pun mereka berada. Tapi, selalu tersisa tanya: kapankah kita bisa menjumpai Allah di rumah-Nya? Ka’bah di Mekkah, kita tahu, adalah bangunan tua berbentuk kubus berjubah hitam. Ukurannya 11,03 &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/11/12/ketika-mekkah-sudah-di-hati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=553&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan FB oleh Hikmat Darmawan</p>
<p>Rindu Mekkah, rindu Ka’bah, adalah rindu rumah bagi jiwa. Umat Islam setidaknya punya waktu lima kali sehari buat berjumpa Allah, di mana pun mereka berada. Tapi, selalu tersisa tanya: kapankah kita bisa menjumpai Allah di rumah-Nya?</p>
<p><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs115.snc3/16262_1245663816307_1070757592_790688_7173189_n.jpg" alt="" width="604" height="375" /><br />
<img title="More..." src="http://ahmadsamantho.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p><span id="more-553"></span></p>
<p>Ka’bah di Mekkah, kita tahu, adalah bangunan tua berbentuk kubus berjubah hitam. Ukurannya 11,03 m kali 12,62 m, dan tinggi 13,10 m. Pada saat Nabi Ibrahim dan puteranya, Nabi Ismail, pertama kali ke Mekkah, bangunan itu sudah ada sejak lama, dan mereka memugarnya, menyempurnakannya sebagai perlambang rumah Allah.</p>
<p>Pada zaman Nabi Muhammad pun, saat ia berusia kira-kira 30 dan belum jadi Nabi, Ka’bah harus dipugar lagi, gara-gara banjir bandang yang melanda pada tahun 600 Masehi. Kita tahu, waktu itu ada perselisihan antarsuku tentang siapa yang berhak meletakkan batu Hajar Aswad. Muhammad pun memberi solusi: semua kepala suku memboyong batu itu ke tempatnya. Peristiwa ini menaikkan pamor Muhammad di mata penduduk Mekkah, sebagai pemuda yang berhasil mencegah pertumpahan darah yang serius di Mekkah.</p>
<p>Banyak peristiwa silih berganti di sekitar Ka’bah, bahkan terhadap Ka’bah sendiri. Kejadian-kejadian bersejarah berupa perang, peralihan kekuasaan, bencana, yang beberapa kali bahkan sempat menghancurkan bangunan Ka’bah sendiri. Namun semua itu hanyalah memperkokoh sosok bangunan Ka’bah sebagai bangunan suci, kiblat salat umat Islam seluruh dunia sepanjang masa.</p>
<p>Bagaimana Ka’bah tak dirindu. Bukan saja ia perlambang rumah Allah. Setiap kita salat, di mana pun kita di planet ini, kita harus menghadap ke arahnya. Terbayang saat kita menutup mata, bangunan bersahaja itu. Kita ruku’, lalu sujud, dengan harap jiwa kita melesat ke rumah Allah, bertandang sejenak, mengobrol atau berhadap-hadapan dengan Sang Khalik, sumber jiwa kita. Kalau sudah begitu, rasanya akan afdhal hidup kita jika secara fisik pun kita ke sana, ke Mekkah, setidaknya sekali saja sebelum kita wafat.</p>
<p>Demikianlah kita paham, betapa rindu membuncah ketika penyair Sutardji Calzoum Bachrie naik haji dan menuliskan puisi Berdepan-depan Dengan Kabah. Ia menulis: Memang engkaulah tamu, engkaulah tuan rumah itu. Inilah rumah dirimu. Nah, mulai kini benahi lagi dirimu! O tamu dirimu, o jiwa batinmu. Roh yang lapar yang haus, ingin mereguk berpuluh-puluh shalat, mengunyah beratus doa! Jamulah dia. Ikuti maunya! Ingin berkitar-kitar tawaf, ingin bergegas bolak-balik Safa Marwah. O jiwa yang resah, kembalilah engkau kepada Tuhanmu.</p>
<p>Kita pun mengerti, mengapa Imam Hambali sampai rela jadi kuli pembawa barang, untuk menutupi biaya hajinya. Atau Ibn Abbas tak menyesali dunia yang terlewat baginya, tapi menyesali mengapa ia tak pernah pergi haji berjalan kaki. Naik haji, dan segala perjalanan sulit serta rindu yang menyertainya, adalah perjalanan menyucikan jiwa, sebuah fase perjalanan pulang jiwa kita sebelum jiwa kita terbang meninggalkan dunia ini selamanya.</p>
<p>Kalau Mekkah sudah di hati, maka segala aral rintangan yang menghalangi hanya akan menambah mutu niatan kita pergi ke tanah suci. Kalaupun akhirnya perjalanan itu tak kesampaian, karena Haji memang “rukun Islam bagi yang mampu”, jiwa kita telah menapaki penyucian itu. Seperti kata Emak dalam film Emak Ingin Naik Haji, “Emak yakin… hati Emak sudah lama ada di sana…”<br />
<img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs115.snc3/16262_1245663816307_1070757592_790688_7173189_n.jpg" alt="" width="604" height="375" /><br />
Kalau Mekkah sudah di hati, hati kita pun akan tiba di Mekkah.***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=553&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/11/12/ketika-mekkah-sudah-di-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs115.snc3/16262_1245663816307_1070757592_790688_7173189_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://ahmadsamantho.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs115.snc3/16262_1245663816307_1070757592_790688_7173189_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SEGERA TAYANG DI BIOSKOP, Film: Emak Ingin Naik Haji,</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 07:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[TESTIMONI &#38; KOMENTAR PARA TOKOH SETELAH MENOTON FILM &#8220;EMAK INGIN NAIK HAJI&#8221; :   silahkan Klik: http://www.youtube.com/watch?v=vKrWi4mYUPA&#38;feature=related http://www.youtube.com/watch?v=OUqwTwPc-TY&#38;NR=1 November mendatang, ibu-ibu Indonesia akan mendapat kado istimewa berupa film bertajuk Emak Ingin Naik Haji. Memang, film ini tak hanya patut ditonton oleh kaum hawa, namun, film keluarga ini juga layak disaksikan oleh seluruh anggota keluarga. Mizan &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=518&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;"><a rel="attachment wp-att-537" href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/flyer-enh-p-besar-1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-537" title="FLYER ENH p besar (1)" src="http://majalahmadina.files.wordpress.com/2009/10/flyer-enh-p-besar-1.jpg?w=750" alt="FLYER ENH p besar (1)"   /></a></p>
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;">TESTIMONI &amp; KOMENTAR PARA TOKOH SETELAH MENOTON FILM &#8220;EMAK INGIN NAIK HAJI&#8221; :   silahkan Klik:</p>
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=vKrWi4mYUPA&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=vKrWi4mYUPA&amp;feature=related</a></p>
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=OUqwTwPc-TY&amp;NR=1">http://www.youtube.com/watch?v=OUqwTwPc-TY&amp;NR=1</a></p>
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;"><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/"><img src="http://img.youtube.com/vi/OUqwTwPc-TY/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;">
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;">
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;"><a rel="attachment wp-att-548" href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/poster-emak/"><img class="aligncenter size-full wp-image-548" title="poster emak" src="http://majalahmadina.files.wordpress.com/2009/10/poster-emak.jpg?w=750" alt="poster emak"   /></a></p>
<p style="line-height:20px;text-align:left;margin:0;padding:0 0 10px;">
<p style="text-align:left;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://mediaislam.oaseadwan.info/wp-content/uploads/2009/10/emak_naik_haji_2.jpg"><img src="http://mediaislam.oaseadwan.info/wp-content/uploads/2009/10/emak_naik_haji_2.jpg" alt="Buku Kumpulan cerpen Asma Nadia: Emak Ingin Naik Haji" width="218" height="320" /></a>November mendatang, ibu-ibu Indonesia akan mendapat kado istimewa berupa film bertajuk Emak Ingin Naik Haji. Memang, film ini tak hanya patut ditonton oleh kaum hawa, namun, film keluarga ini juga layak disaksikan oleh seluruh anggota keluarga.</dt>
<dt class="wp-caption-dt"><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/"><img src="http://img.youtube.com/vi/YfLtQnsk7R0/2.jpg" alt="" /></a></span></dt>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Mizan Productions yang sukses menghadirkan Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku bekerja sama dengan Smaradhana Pro meluncurkan Emak Ingin Naik Haji, sebuah film drama religi yang mengangkat berbagai nilai kehidupan: kegigihan, ketulusan, kasih sayang, semangat berbagi, berserah diri, dan berbagai nilai indah lainnya yang mungkin saja terlupakan oleh sebagian besar dari kita.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;"><span id="more-518"></span></p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;"><img class="alignleft" src="http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak1.jpg?w=100&#038;h=150&#038;h=150" alt="http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak1.jpg?w=100&#038;h=150&#038;h=150" width="100" height="150" /></p>
<p>Emak Ingin Naik Haji bercerita tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya, yaitu pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan haji. Kehidupan Emak sehari-hari hanya bergantung pada hasil jualan kue yang dititipkan di warung atau pesanan orang. Kalau beruntung, ada juga sedikit tambahan uang dari Zein, anak Emak satu-satunya yang berjualan lukisan keliling hasil karyanya sendiri</p>
<div class="mceTemp" style="text-align:justify;">Walaupun Emak tahu bahwa naik haji adalah salah satu hal yang mungkin sulit diraih, tetapi Emak tidak putus asa, dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein, yang melihat kegigihan Emak tersebut, juga berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan Emak. Apakah ada jalan bagi Emak agar keinginannya terwujud?</div>
<p><img class="alignleft" src="http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak3.jpg?w=150&#038;h=94&#038;h=94" alt="http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak3.jpg?w=150&#038;h=94&#038;h=94" width="150" height="94" /></p>
<p>Kelanjutan cerita ini dapat kita saksikan saat film Emak Ingin Naik Haji ini dirilis di bioskop pada 12 November mendatang.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Emak Ingin Naik Haji digarap oleh Aditya Gumay yang mengadaptasi sebuah cerpen berjudul sama yang ditulis oleh Asma Nadia pada 2007. Aditya mengakui, saat pertama kali membaca cerpen tersebut, ia tak kuasa menitikkan air mata dan ingin mewujudkannya dalam layar lebar. Ia pun kemudian bekerja sama dengan Adenin Adlan untuk menggarap skenario Emak Ingin Naik Haji hingga rampung pada Januari 2008.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Beberapa artis senior terlibat dalam film Emak Ingin Naik Haji. Sebut saja, Aty Kanser yang berperan sebagai Emak, Didi Petet, Niniek L. Karim, Henidar Amroe, Cut Memey, dan Reza Rahardian yang populer setelah berakting dalam film Perempuan Berkalung Sorban.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;"><img src="http://profile.ak.fbcdn.net/object3/132/56/n231486370022_5400.jpg" alt="http://profile.ak.fbcdn.net/object3/132/56/n231486370022_5400.jpg" width="200" height="333" /></p>
<p>Meski dibuat dengan biaya minim, produser Emak Ingin Naik Haji, Putut Widjanarko, meyakinkan bahwa film ini tak kalah berkualitas dengan dua film sebelumnya yang sukses diluncurkan Mizan Productions. Keunggulan Emak Ingin Naik Haji adalah tema sosial yang mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat. Lebih khususnya, Emak Ingin Naik Haji menyentil fenomena sosial keluarga muslim yang hidup berkecukupan dan dapat berkali-kali naik haji sementara banyak keluarga muslim lain yang tak mampu menunaikan rukun Islam kelima tersebut atau harus bersusah payah menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya pergi haji.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekah, tetapi karena persoalan finansial, maka pergi haji menjadi sebuah hal yang sangat jauh di awang-awang. Sementara Juragan Haji, yang diperankan oleh Didi Petet, bersama keluarganya dengan penuh kemudahan dapat melakukan ibadah haji dan umroh kapan saja mereka inginkan. Adapula Pak Joko, yang memaksakan diri untuk pergi haji karena ingin memamerkan titel hajinya untuk meraup suara pada pemilihan umum.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Aty Kanser yang berperan sebagai Emak di film ini mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam film tersebut adalah karena ingin menyemarakkan syiar Islam. “Kalau bukan karena syiar mah, Emak nggak mau ikutan,” ujar Emak Aty Kanser yang kerap berperan sebagai seorang ibu yang tabah.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Sementara itu, Reza Rahardian, yang berperan sebagai Zein, mengatakan bahwa film Emak Ingin Naik Haji adalah kado untuk ibunda tercintanya. Film ini juga mengasah kepiawaian Reza dalam memerankan Zein. Untuk mendalami karakter Zein, Reza mengakui bahwa ia sampai harus bermalam di rumah yang menjadi lokasi rumahnya dalam film. “Saya harus tinggal, menetap, tidur, mandi di lokasi tersebut bahkan setelah semua kru, sutradara sudah pulang semua,” ujar Reza. Reza menambahkan, film Emak Ingin Naik Haji adalah film luar biasa yang membuatnya yakin untuk berperan sebagai Zein saat pertama kali membaca skenarionya.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Aditya Gumay, yang juga bertindak sebagai sutradara, mengakui bahwa saat ini, tim produksi sedang sibuk melakukan shooting di beberapa wilayah di Jakarta dan sekitar pulau Jawa. Bagi Aditya, shooting yang masih berjalan ini banyak mendapatkan kemudahan. Sama seperti penuturannya dalam milis FLP Sumut, Aditya mengungkapkan beberapa kemudahan dalam proses shooting. Salah satunya, ketika kru kesulitan untuk mendapatkan lokasi shooting yang bisa menggambarkan keadaan yang sesuai dengan cerita. Sebuah rumah kumuh milik Emak yang bersebelahan dengan rumah mewah tempat sang juragan haji. Kemudahan tiba-tiba saja muncul ketika salah satu orang tua murid di sanggarnya (Sanggar Ananda, red), menawarkan rumah besar dan rumah kontrakan miliknya. Walhasil, kru pun langsung bergerak mendandani rumah kontrakan itu agar semirip mungkin dengan gambaran dalam cerpen.</p>
<p style="line-height:20px;margin:0;padding:0 0 10px;">Meski tak menargetkan dengan angka, co-producer Emak Ingin Naik Haji, Gangsar Sukrisno, menegaskan bahwa film Emak Ingin Naik Haji adalah film keluarga, sebuah drama religi yang layak dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Film ini pun ibarat oase di tengah padang pasir film bertema cinta yang marak di layar lebar. Kehadiran film ini pun ikut menyemarakkan film bertema religi yang mulai mendapat tempat di masyarakat akhir-akhir ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=518&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/10/05/segera-tayang-di-bioskop-film-emak-ingin-naik-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahmadina.files.wordpress.com/2009/10/flyer-enh-p-besar-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FLYER ENH p besar (1)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahmadina.files.wordpress.com/2009/10/poster-emak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poster emak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mediaislam.oaseadwan.info/wp-content/uploads/2009/10/emak_naik_haji_2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Buku Kumpulan cerpen Asma Nadia: Emak Ingin Naik Haji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak1.jpg?w=100&#38;h=150" medium="image">
			<media:title type="html">http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak1.jpg?w=100&#38;h=150</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak3.jpg?w=150&#38;h=94" medium="image">
			<media:title type="html">http://penamedan.files.wordpress.com/2009/08/mak3.jpg?w=150&#38;h=94</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://profile.ak.fbcdn.net/object3/132/56/n231486370022_5400.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">http://profile.ak.fbcdn.net/object3/132/56/n231486370022_5400.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluhan Pembaca setia Majalah Madina</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/29/keluhan-pembaca-setia-majalah-madina/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/29/keluhan-pembaca-setia-majalah-madina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 04:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita hangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Mulai Oktober 2009, Madina Akan Ditiadakan dari Muka Bumi Bagikan Anda pergi ke penjual-penjual koran, tabloid dan majalah di pinggir jalan, atau malah di toko buku, apakah sering Anda memperhatikan jenis tabloid dan majalah yang mereka jual? Kalau menurut pengamatan saya, paling banyak adalah tabloid dan majalah selebriti dan gosip. Isinya adalah bentuk cetak dari &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/29/keluhan-pembaca-setia-majalah-madina/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=512&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="font-size:13px;font-weight:bold;line-height:15px;float:left;width:440px;margin:0;padding:0 0 1px;">
<p>Mulai Oktober 2009, Madina Akan Ditiadakan dari Muka Bumi</p>
</div>
<div style="font-size:9px;display:block;float:right;"><a style="cursor:pointer;color:#3b5998;text-decoration:none;background-image:url('http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/z28K9/hash/wjc46okw.png');background-repeat:no-repeat;background-attachment:initial;background-color:white;background-position:100% -355px;border:1px solid #7f93bc;padding:0 14px 1px 4px;" title="Kirim ini ke teman atau ke profil Anda." rel="dialog" href="http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&amp;appid=2347471856&amp;p[]=805873375&amp;p[]=133625759340">Bagikan</a></div>
<p>Anda pergi ke penjual-penjual koran, tabloid dan majalah di pinggir jalan, atau malah di toko buku, apakah sering Anda memperhatikan jenis tabloid dan majalah yang mereka jual?</p>
<p>Kalau menurut pengamatan saya, paling banyak adalah tabloid dan majalah selebriti dan gosip. Isinya adalah bentuk cetak dari seluruh acara entertaintment news yang mengisi acara televisi dari pagi, kalau bukan subuh, sampai malam.</p>
<p><span id="more-512"></span></p>
<p>buruk lagi kalau penjualnya berdiri di lampu merah jalan-jalan di Jakarta. Saya pernah naik taksi dan ditunjukkan playboy berbahasa Inggris. Belum lagi tabloid dengan sampul bergambar syur yang tidak akan di temui di toko-toko buku seperti Gramedia, Trimedia, Karisma, atau MP Point. Simpulan saya adalah, majalah jenis itu yang paling laku. Maka jangan heran jika tabloid ini yang tumbuh subur di Indonesia tanah air tercinta. Itu mungkin pula yang menjadi dasar keekonomisan sehingga majalah Playboy Indonesia berani terbit disini. Saya agak kesusahan mencari majalah sepeda, salah satu hobi saya, di Balikpapan. Tapi mencari tabloid dan majalah Popular, FHM, Girls, Bintang, Nyata, dan teman-temannya yang tidak mungkin saya hapal satu persatu, amatlah mudah. Saingannya hanya majalah fashion dan yang behubungan dengan “rahasia umum” lelaki dan perempuan. Tetapi jenis-jenis tabloid dan majalah itu kan “setali banyak uang”, namanya saja beda tapi isinya banyak yang sama.</p>
<p>Akhirnya saya yang lebih senang membaca majalah yang berbau jurnal dan berisi artikel atau opini yang memberikan pelajaran, merasa agak kesulitan. Apatah lagi majalah agama yang seirama dengan nature saya. Untung saja ada majalah berita sejenis Tempo atau Gatra yang punya opini-opini cerdas; atau tabloid dan majalah yang berbau komputer (kebetulan saya juga suka). Ada juga sih beberapa majalah agama, tapi lebih banyak ke kanan, atau sangat kanan. Bahkan ada di antaranya yang lebih banyak menyebar kebencian menurut saya. Padahal saya butuh majalah agama yang pertengahan, yang netral dan toleran. Dulu saya sempat menjadi pembaca loyal Ulumul Quran terbitan LSAF, juga majalah Ummat. Sayang keduanya sudah almarhum.   Tapi alhamdulillah, 20 bulan lalu terbit majalah Madina. Saya mengenalnya tidak sengaja, itupun sudah di edisi ketiga. Waktu itu saya membeli roti di Valda, salah satu minimarket di sekitaran Balikpapan Baru, Balikpapan. Ketika melihat-lihat majalah, saya melihat Madina. Saya memang sering membeli majalah komputer di situ.   Karena penasaran melihat namanya yang baru, apalagi slogannya yang menantang, “a truly islamic magazine”, saya minta izin kepada penjual untuk membuka plastiknya. Di box redaksi dkk, sayamelihat beberapa nama yang saya sudah kenal baik. Saya langsung membelinya. Di rumah, saya membacanya sampai habis, seperti orang yang minum setelah pulang kehausan.   Akhirnya setiap bulan saya menunggu kedatangannya. Walaupun saya sudah tahu bahwa di Balikpapan datangnya setelah pertengahan bulan, sebelum tanggal 10 saya sudah cari di Valda. Pernah suatu waktu saya tidak menemukannya di Valda, saya carinya kemana-mana. Saya lalu menemukan di samping Valda, penjual tabloid majalah yang juga jual vocer handphone.   Suatu waktu, sudah tanggal 30 saya tidak menemukannya di seluruh tempat yang saya datangi di Balikpapan. Saya cemas Madina sudah wafat. Tapi kok tidak pamit ya? Waktu itu edisi Laskar Pelangi. Tanpa sengaja, saya menemukannya di penjual majalah di Terminal Rasa Klandasan Balikpapan awal bulan berikutnya. Beberapa bulan terakhir, saya selalu membeli Madina di penjual majalah lantai 2 Hypermart Balikpapan.   Bagi saya, Madina adalah majalah Islam yang baik. Isinya mengajarkan keseimbangan. Tidak salah jika tahun kedua Madina memilih tag yang baru, “Terbuka, Bijak, Mencerahkan”. Tentu ada-ada hal-hal dimana saya tidak harus setuju, tetapi overall isinya benar-benar mencerahkan. Madina setidaknya berusaha mengambil jalan tengah. Saya yakin, pasti ada pula komunitas Islam yang akan menyebutnya jaringan Islam liberal, sebagaimana yang diakui oleh redaksi suatu waktu. Tetapi bagi saya, kehadiran seseorang di suatu tempat tidak mungkin disetujui semua orang.   Di bulan September 2009, saya membeli Madina di Valda, tanggal 16. Seperti biasa, saya langsung membaca isinya. Itu yang lebih penting buat saya. Saya memang agak jarang membaca daftar isi, juga pengantar redaksi. Saya agak to the point. Tetapi di hari lebaran 20 September 2009 kemarin, istri saya tiba-tiba bertanya, “Pua’, Madina tidak akan terbit lagi ya?” Saya tentu yang kaget. “Kok bisa?” Istri saya menyodorkan halaman 5. Disana redaksi mengatakan, “Kami, Keluarga Madina, Mohon Pamit”. Mulai Oktober 2009, Madina tidak akan terbit lagi.   Saya sedih sekali, benar-benar sedih. Kesedihan itulah yang memaksa saya membaginya di tulisan ini. Jika mau jujur, saya remuk ditinggalkan oleh dua hal di 1 Syawal 1430 tahun ini: ramadhan dan majalah Madina. Mungkin berlebihan, tapi saya jujur. Sayang sekali, majalah yang baik ini harus berhenti hanya karena satu alasan: bisnis. Tetapi begitulah keadaannya. Karena Madina juga adalah produk bisnis walaupun saya tahu para pengelolanya ingin menyampaikan pesan yang baik kepada para pembacanya, ia tidak akan bisa mengelak dari hukum bisnis itu. Madina harus mati karena dia tidak laku. Bisa jadi para pengelolanya “tidak maksimal”, tapi saya yakin mereka tidak main-main. Dan yang paling menyedihkan, tidak ada yang bisa saya marahi karena “kegagalan” ini.   Saya menimang-nimang Madina edisi terakhir ini. Lalu saya membayangkan majalah-majalah gosip itu bertambah-tambah, beranak pinak seperti cendawan di musim hujan. Saya membayangkan sampul-sampul vulgar di tabloid dan majalah. Dan mungkin minggu depan akan terbit tabloid dan majalah baru, Popular 2, Popular 3, Playboy 2, Playboy 3, dan kawan-kawannya. Ya, majalah-majalah seperti itulah yang kita butuhkan di Indonesia, agar kita bisa belajar keterbukaan dan kebebasan pers. Masyarakat Indonesia memang sangat membutuhkan majalah-majalah entertainment itu, agar mereka bisa merasa enjoy dan entertained sehingga bisa meningkatkan etos kerja yang lebih baik. Kita perlu majalah-majalah seks, agar setiap pasangan suami istri bisa mengharmoniskan kehidupan rumah tangga mereka sebagai pilar komunitas bangsa. Mungkin juga diperlukan oleh anak-anak remaja kita, agar mereka bisa mengenal alat-alat kelamin, seks yang “aman”, posisi-posisi bersetubuh yang mengenakkan, sebelum mereka menikah. Mungkin itu penting, agar mereka tidak mengecewakan pasangannya nanti.   Kepada crew Madina, terima kasih karena sudah pernah hadir. Saya menghargai kerja keras kalian selama 20 bulan. Idealisme memang harus hidup kawan, tapi dia juga harus punya pupuk. Saya berharap Madina bisa hadir lagi dalam bentuk yang lain.   Balikpapan, 2 Syawal 1430H/21 September 2009 (dari Catatan Facebook Mustamin al-Mandary, Balikpapan, Kaltim.)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/512/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/512/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=512&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/29/keluhan-pembaca-setia-majalah-madina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiada Festival Tanpa Akhir</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/tiada-festival-tanpa-akhir-2/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/tiada-festival-tanpa-akhir-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 07:06:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Atikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Komaruddin Hidayat Hidup ini bagaikan festival. Dan semua festival pasti ada akhirnya. Pesertanya tampak warna-warni. Bertemu orang dengan warna kulit, bahasa, budaya, agama dan cita-cita yang berbeda-beda, semuanya berada dalam panggung kehidupan yang meramaikan planet bumi.  Setiap orang akan mengambil peran. Ada yang mungkin merasa cocok dan menyenangkan dengan lakon yang diperankan, tapi banyak juga &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/tiada-festival-tanpa-akhir-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=502&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:7BPMMS0c0mLeXM:http://i53.photobucket.com/albums/g53/avicenia4/komar.jpg"><img class="alignleft" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:7BPMMS0c0mLeXM:http://i53.photobucket.com/albums/g53/avicenia4/komar.jpg" alt="" width="89" height="111" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Komaruddin Hidayat</p>
<p>Hidup ini bagaikan festival. Dan semua festival pasti ada akhirnya. Pesertanya tampak warna-warni. Bertemu orang dengan warna kulit, bahasa, budaya, agama dan cita-cita yang berbeda-beda, semuanya berada dalam panggung kehidupan yang meramaikan planet bumi.  Setiap orang akan mengambil peran. Ada yang mungkin merasa cocok dan menyenangkan dengan lakon yang diperankan, tapi banyak juga yang merasa tidak nyaman dan tersiksa. Apakah peran itu sebuah takdir yang tak dapat dirubah, atau terbuka peluang untuk mencipta peran baru, pertanyaan ini selalu saja menarik diperbincangkan.</p>
<p><span id="more-502"></span></p>
<p>Ada teori determinasi kultural, bahwa setiap anak yang terlahir akan diasuh dan dibentuk oleh lingkungannya sehingga peran sosial yang akan diambil sulit keluar dari tekanan kulturalnya. Ada juga teori determinasi kelas ekonomi. Cara berpikir dan memandang hidup seseorang akan ditentukan oleh kondisi dan pertimbangan kepentingan ekonominya. Yang lain berpandangan, manusia itu bagaikan wayang, Tuhan adalah maha Dalang, terserah apa yang dikehendaki dalang, manusia tinggal menjalaninya saja. Demikianlah, masih banyak cara pandang dan teori lain yang tak pernah sepakat bagaimana memahami dinamika dan misteri kehidupan yang seringkali kita dibuat terkaget-kaget.</p>
<p>Dalam kesendirian kadangkala saya melakukan dialog imajiner dengan kaki saya. Betapa setia namun juga betapa capeknya kaki itu setiap hari mesti membawa badan mondar-mandir ke sana kemari. Kaki itu mesti capek, tetapi yang paling diperhatikan dan dimanja  mungkin wajah dan lidah.   Tidak hanya mondar-mandir dalam rumah, ruang kerja ataupun perjalanan di dalam negeri, namun juga keluyuran ke berbagai negara. Tidak kurang dari tiga puluh negara  kaki ini pernah membawa badanku.</p>
<p>Dulu semasa jumlah penduduk bumi masih sedikit, tentu tidak dikenal batas negara. Mereka lebih akrab dengan batas sungai. Selebihnya adalah padang pasir atau hutan belantara yang sangat lebat dan tidak diketahui ujungnya.  Saat ini gambaran desa dan perkotaan di seantero jagad terlihat semakin warna-warni. Rasanya ingin mengembara dan rekreasi menjelajahi keindahan sudut-sudut bumi yang indah ini bersama keluarga tercinta.</p>
<p>Namun suatu hal yang sering dilupakan,  kita bisa saja merasa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain entah dengan berjalan kaki, naik mobil atau pesawat terbang, tetapi tidak demikian halnya dengan kendaraan waktu yang kita tumpangi.  Waktu selalu berjalan maju, semenit yang lalu pun telah lenyap dan tidak bisa ditarik kembali. Sementara apa yang akan terjadi dan kita jumpai di depan sana semuanya masih penuh misteri, masih serba mungkin. Apakah yang akan terjadi besuk pagi dengan diri kita, masih menyimpan teka-teki. Tak ada yang paling pasti kecuali kematian.</p>
<p>Ibarat orang hendak bepergian atau pindah rumah di lingkungan yang baru, membayangkan saat kematian tiba pasti akan menimbulkan respons sangat emosional. Ada yang mungkin bersemangat, namun umumnya muncul rasa enggan, ragu dan takut membayangkan apa yang akan terjadi setelah kematian nanti.</p>
<p>Berdasarkan obrolan ringan dengan beberapa orangtua yang sudah lanjut usia, sambil menapaki hari-hari, bulan atau tahun mendekati gerbang kematian, mereka disadarkan mengenai beban dan bekal apa yang dibawa. Dengan serangkaian peristiwa suka dan duka, sederet gerbong yang membawa amal baik dan buruk, siapapun tak akan mampu mengelak dan berkelit untuk memasuki <em>gate of mortality,</em> semua mesti masuk pesawat kematian dan tidak bisa keluar kembali. Mereka akan meneruskan route perjalanan lebih lanjut.</p>
<p>Di saat itu, ketika mengenang masa lalu, drama kehidupan dunia terasa sangat pendek durasinya dan begitu cepat berlangsung. Ingin sekali rasanya memutar balik jarum kehidupan, lalu mengukir dan meninggalkan jejak-jejak hidup yang bagus, indah dan membanggakan bagi anak cucu.</p>
<p>Di usia senja baru tersadar dan muncul penyesalan, mengapa anugerah kesehatan  dan fasilitas umur tidak digunakan untuk membangun taman kebajikan yang indah dipandang dan mensejahterakan diri, keluarga dan masyarakat? Dalam ketidakberdayaan melawan  tirani waktu yang tidak kenal berhenti, berbahagialah mereka yang hatinya memang sudah sangat merindukan untuk lebih dekat dan berjumpa dengan Tuhan yang semasa hidup lidahnya selalu menyebut asmaNYA.</p>
<p>Ketika seseorang sudah merasa dekat ajalnya, dukungan keluarga tercinta  sangat dibutuhkan. Sikap ikhlas, dan optimisme menghadapi hidup yang ditunjukkan keluarganya akan sangat membantu orangtua yang akan berpisah melepaskan dunia. Juga kehadiran teman-teman lama untuk memberi dukungan dan mengenang kembali masa-masa indah selama bergaul  akan  memberikan kegembiraan dan membuat dirinya bermakna di antara para sahabatnya.</p>
<p>Dalam situasi seperti itu kebiasaan yang telah terekam dalam hati, pikiran dan tubuh kita akan tampil kembali. Beruntunglah mereka yang rekaman hatinya baik, yang diisi dengan kebiasaan berdzikir dan jauh dari endapan prasangka negative tentang hidup, maka masa penantian itu tidak menimbulkan teror mental di depan gerbang ajal. Bahkan mereka rindu berjumpa dengan Rasulullah, dengan saudara dan teman lama yang telah mendahuluinya.</p>
<p>Sekarang ini pun kita tengah berada dalam kereta waktu yang tak kenal mundur. Tepat sekali peringatan Al-Qur’an, sadarlah  kamu sekalian akan waktu. Sungguh manusia akan merugi karenanya, kecuali mereka yang berpegang teguh pada tali Allah dan mengisi hari-harinya dengan amal kebajikan, yang membuat ajal bagaikan hari wisuda untuk memasuki festival kehidupan baru dalam suasana yang jauh lebih indah, meriah dan membahagiakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=502&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/tiada-festival-tanpa-akhir-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:7BPMMS0c0mLeXM:http://i53.photobucket.com/albums/g53/avicenia4/komar.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Majalah Madina Edisi September 2009</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/majalah-madina-edisi-september-2009/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/majalah-madina-edisi-september-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 06:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/majalah-madina-edisi-september-2009/</guid>
		<description><![CDATA[Beredar majalah Madina terbaru edisi September 2009: Madina No. 20, Edisi SeptemberPembaca Madina yang budiman, September ini kami kembali menyapa Anda untuk yang terakhir kalinya.Kedatangan Islam ke Nusantara memberi warna baru bagi kekayaan lokal. Itu terjadi karena ada dialog, peleburan, dan saling terima di antara keduanya. Di tanah Minang, misalnya terkenal istilah  adat basandi Syarak (adat &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/majalah-madina-edisi-september-2009/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=498&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beredar majalah Madina terbaru edisi September 2009:</p>
<p><a rel="attachment wp-att-507" href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/majalah-madina-edisi-september-2009/sampul-september-3-2/"><img class="size-medium wp-image-507 alignleft" title="sampul september 3" src="http://majalahmadina.files.wordpress.com/2009/09/sampul-september-31.jpg?w=228&#038;h=300" alt="sampul september 3" width="228" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p><strong> </strong></p>
<p>Madina No. 20, Edisi September<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Pembaca Madina yang budiman, September ini kami kembali menyapa Anda untuk yang terakhir kalinya.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Kedatangan Islam ke <span id="lw_1252904418_0" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;cursor:pointer;background-image:initial;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:transparent;border-bottom-style:none;border-bottom-width:initial;border-bottom-color:initial;background-position:initial initial;">Nusantara</span> memberi warna baru bagi kekayaan lokal. Itu terjadi karena ada dialog, peleburan, dan saling terima di antara keduanya. Di tanah Minang, misalnya terkenal istilah  adat basandi Syarak (adat bersendi Syariat). Atau di <span id="lw_1252904418_1" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">Betawi</span>, lazim bagi anak mudanya untuk bisa salat dan silat. Begitu juga di tempat-tempat lain.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><span id="more-498"></span><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Masalahnya, gagasan terhadap Islam murni selalu menjadi buldoser bagi kebudayaan lokal. Yang asing ditampik dan disingkarkan. Dan dinamika itu pun pernah terjadi di Nusantara. Salah satunya adalah Gerakan Padri. Gerakan yang terinspirasi kalangan <span id="lw_1252904418_2" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Wahabi</span> itu mencoba mengikis habis unsur budaya ’bukan Islam’ di tanah Minang. Bahkan dengan kekerasan pun jadi. Padahal yurisprudensi Islam mengenal istilah ’urf, adat setempat. Itu artinya, Islam sangat menghargai budaya lokal. (Laporan Utama)<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Saat semua dalang dari Jawa Tengah menggunakan wayang kulit, Slamet Gundono memilih wayang di luar arus utama, wayang suket dan wayang lindur. Tubuhnya yang berukuran besar, 250 kilogram, tidak membuat dalang kelahiran <span id="lw_1252904418_3" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Tegal</span>ini tidak lincah beratraksi di panggung.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Sebagai pendalang yang pernah nyantri, dia menolak pandangan yang mengidentikan dunia dalang dengan Hindu-Budha. Menurutnya dunia dalang adalah dunia yang netral. Dunia yang menggangap tamu yang datang sebagai tuan rumah sendiri. <span id="lw_1252904418_4" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">Sikap</span> terbuka itu ada karena selain Jawa punya dasar yang kuat, Jawa juga tidak berlebih-lebihan dalam beridentias. Bukankah sikap tidak berlebih-lebihan <span id="lw_1252904418_5" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">adalah salah satu</span> ajaran <span id="lw_1252904418_6" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">dalam Islam</span>? (Wawancara)<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Prita Mulyasari adalah korban sekaligus inspirasi. Korban karena berusaha melawan pemodal besar yang ’buruk rupa, cermin dibelah’. Dia juga korban dari pasal karet hasil warisan zaman kolonial yang masih ampuh saja sampai sekarang. Di sisi lain, dia menjadi inspirasi bagi masyarakat kecil yang selama ini selalu diam ketika berhadapan dengan pemodal besar. Dan inspirasi untuk memikirkan ulang pasal-pasal yang isinya selalu merugikan rakyat jelata dan menguntungkan penguasa.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Apa saja pengalaman berharga yang didapat Prita Mulyasari selama masa musibah ini? Adakah pengaruh perjalanan selama ini terhadap perkembangan psikologi keduanya balitanya? Masih adakah kelompok-kelompok sipil yang masih terus mendukungnya? Bagaimana pendapatnya menghadapi ’sekuel’ babak kedua dirinya melawan RS. Omni Internasional? (Nasional)<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Mulanya tidak ada yang terlalu mencolok dari Rifqa Bari, putri seorang muslim keturunan <span id="lw_1252904418_7" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">Sri Langka</span> yang kini menetap di <span id="lw_1252904418_8" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">Amerika Serikat</span>. Namun kini dia menjadi sorotan media di AS setelah dia lari dari rumah dan melapor kepada pihak kepolisian dengan pengakuan: dirinya akan dibunuh orangtuannya karena telah menjadi Kristiani. Benarkan pengakuan Rifka?<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Arab Saudi ingin berubah menjadi lebih terbuka dan demokratis. Dan pusat perubahan itu ada di jantungnya sendiri:<span id="lw_1252904418_9" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Raja Abdullah</span>. Sayangnya, sang raja tidak muda lagi. Tariq Ramadhan yang membawa Islam moderat ke Eropa disingkiran kalangan konservatif. Alasannya, acara televisi yang dipandunya disiarkan oleh salah satu jaringan televisi internasional milik Iran. (Internasional)<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Ramadhan datang, program televisi digandakan. Yang paling laris adalah program lawakan menjelang berbuka dan saat sahur. Naasnya program ini selalu membuat masalah karena sering mengeluarkan kata yang tidak pantas yang tentunya akan mengotori kesucian Ramadhan. Simak juga pengalaman menarik Oppie Andaresta, Opick, Mustafa ’Debu’, Fajroel Rahman, Ben Sohib, dan tokoh lainnya ketika Ramadhan. (Laporan Khusus)<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Belajar Islam di Barat? Pertanyaan mengusik itu coba dijawab <span id="lw_1252904418_10" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Ulil Abshar Abdalla</span>. Menurutnya belajar Islam di<span id="lw_1252904418_11" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">perguruan tinggi</span> Barat justru membantu umat menemukan kembali ajaran-ajaran murni yang kaya dari <span id="lw_1252904418_12" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;border-bottom-style:dashed;border-bottom-width:1px;border-bottom-color:#0066cc;cursor:pointer;">peradaban Islam</span>. Selain itu belajar di Barat menjadikannya lebih memahami kalangan konservatif dan semakin rindu mengaji di masjid. (<span id="lw_1252904418_13" style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;">Wacana</span>)<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Masih banyak rubrik lainnya yang menarik. Seperti catatan Ramadhan dari Ali Mustafa Ya’qub, Imam Masjid Istiqlal; Ramadhan di sudut Bronx; Pengalaman ruhani Astrid Darmawan, mantan model 80-an; Ulasan film cin(T)a; Esai foto, dan lainnya.<br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" /><br style="line-height:1.2em;outline-style:none;outline-width:initial;outline-color:initial;" />Segera dapatkan Madina No. 20 dan selamat menikmati sajian informasi yang kami berikan.</p>
<p><strong>Kami, Keluarga <em>Madina</em>, Mohon Pamit.</strong></p>
<p>Mulai bulan depan, kami tidak akan hadir di pangkuan Anda. Kami bersama di sini memutuskan untuk berhenti terbit karena satu alasan: secara ekonomis, kami tak mungkin bertahan. Sebagai sebuah produk bisnis, <em>Madina</em> harus memperoleh pemasukan yang lebih besar daripada pengeluaran. Dan itu yang tidak kunjung bisa dicapai.</p>
<p>Ketika akhir 2007 lalu kami memutuskan untuk hadir di pasar, kami tahu bahwa kondisinya tidak terlalu menguntungkan. Banyak pihak mengingatkan bahwa akan sulit bagi majalah seperti <em>Madina</em> untuk memperoleh pembeli dan pengiklan cukup banyak agar bisa bernapas cukup panjang. Ketika itu, kami memutuskan untuk tetap lahir karena kami percaya akan keniscayaan memperjuangkan apa yang kami yakini benar, betapapun sulitnya medan yang dihadapi.</p>
<p>Kini, 20 bulan kemudian, kami harus menyatakan bahwa peringatan itu benar. Namun itu rasanya tak perlu membuat kami menyesal pernah mencoba. Kami tetap percaya sebuah media seperti <em>Madina</em>, dengan semangat yang dibawanya, seharusnya ada di Indonesia. Mungkin kami bukan orang yang tepat untuk menjalankannya. Mungkin upaya kami kurang keras. Tapi, majalah seperti <em>Madina</em>, seharusnya ada.</p>
<p>Bagaimana pun, kami bahagia. Kami bahagia karena kami pernah menjadi bagian dari upaya membangun umat Islam yang lebih toleran, damai, ceria, yang terbuka terhadap perbedaan, yang menghargai keberagaman, terbuka terhadap dunia, yang percaya pada demokrasi. Kami bahagia kami pernah berada di sana.</p>
<p>Kami adalah bagian dari kalangan yang risau ketika Islam ditunggangi oleh mereka yang hendak memaksakan agama ini menjadi berwajah garang, menakutkan, kaku, serta membuat batas tegas antara ’kita’ dan ’mereka’. Untuk melawan itu, <em>Madina</em> terbit. Karena itu, walaupun kini kami gagal, kami paling tidak bisa berkata: ”Setidaknya kami mencoba.”</p>
<p>Tapi yang lebih penting dari itu, kami bahagia karena kami pernah berjumpa Anda, para pembeli dan pembaca <em>Madina</em>. Anda adalah orang yang mau meluangkan sebagian uang belanja atau waktu Anda untuk membaca tulisan-tulisan kami. Anda punya begitu banyak pilihan dan <em>toh</em> Anda memilih untuk berkomunikasi dengan kami. Kami percaya Anda adalah kalangan yang akan menjadikan Islam di Indonesia tumbuh menjadi peradaban yang menawan sebagaimana di masa kejayaan Islam dulu.</p>
<p>Kami, keluarga <em>Madina</em>, pamit.</p>
<p>Kami menyatakan terima-kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang memungkinkan majalah ini bertahan selama 19 bulan. Kami percaya para malaikat akan mencatat nama-nama para penyandang dana, para sponsor, para pengiklan, para pendukung, para pembeli, para pembaca, para penjaja, yang tanpa mereka majalah ini tak akan ada. Kami berdoa, apa yang mereka dan Anda lakukan, punya makna di mata Sang Pencipta.</p>
<p>Kata orang bijak: ”Tuhan memang tidak pernah menjanjikan dunia yang dipenuhi kebun bunga mawar.” Allah memang tidak pernah menyatakan bahwa tujuan baik akan dapat dicapai dengan mudah. Kami akan terus berjalan. Mudah-mudahan ini bukan titik. Cuma tanda koma dengan sekian panjang kelanjutan.</p>
<p><em>Wassalam.</em></p>
<p>PS: Kepada para pelanggan <em>Madina </em>yang masih belum selesai periode langganan Anda, kami akan mengembalikan sisa uang langganan Anda. Terima kasih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/498/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=498&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/09/07/majalah-madina-edisi-september-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majalahmadina.files.wordpress.com/2009/09/sampul-september-31.jpg?w=228" medium="image">
			<media:title type="html">sampul september 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM AGAMA CINTA</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/islam-agama-cinta/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/islam-agama-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 07:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[ISLAM AGAMA CINTA Haidar Bagir Suatu kali, lebih dari setengah abad lalu, seorang dosen-perempuan muda berkebangsaan Jerman mengajar tentang filsafat agama di sebuah universitas di Turki. Mungkin dengan sikap agak “sok tahu seorang orientalis” di hadapan mahasiswa-mahasiswa di sebuah negeri Muslim “yang belum terlalu maju”, dia berkisah tentang teori Rudolf Otto – seorang pemikir agama &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/islam-agama-cinta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=495&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ISLAM AGAMA CINTA</p>
<p align="center"><strong>Haidar Bagir</strong></p>
<p>Suatu kali, lebih dari setengah abad lalu, seorang dosen-perempuan muda berkebangsaan Jerman mengajar tentang filsafat agama di sebuah universitas di Turki. Mungkin dengan sikap agak “sok tahu seorang orientalis” di hadapan mahasiswa-mahasiswa di sebuah negeri Muslim “yang belum terlalu maju”, dia berkisah tentang teori Rudolf Otto – seorang pemikir agama terkemuka dan penulis <em>Ideas of the Holy</em> &#8212; mengenai adanya dua situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya.</p>
<p><span id="more-495"></span></p>
<p>Dalam situasi pertama, papar si dosen muda, Tuhan tampil di hadapan manusia sebagai suatu “misteri yang menggentarkan” .  Pada situasi lainnya, Dia hadir sebagai “misteri yang memesonakan”.  Situasi yang disebut pertama menghasilkan hubungan Tuhan-manusia yang lebih didasarkan pada ketakutan, sementara yang belakangan pada cinta. Yang pertama menghasilkan ketundukan pada hukum (<em>nomos</em> atau <em>syari’ah</em>) sementara yang belakangan ketertenggelaman dalam <em>mahabbah</em> (<em>eros</em> atau <em>thariqah/tashawuf</em>)</p>
<p>Dalam sesi tanya-jawab yang dibuka setelah itu, seorang di antara para mahasiswa itu mengangkat tangan. Segera dia mengejutkan si dosen dengan menyatakan bahwa, sejak berabad lampau, kaum mistikus Muslim (sufi) telah mengajarkan bahwa Tuhan memiliki dua aspek : <em>jalaliyyah</em> dan <em>jamaliyyah</em> – memang tak kurang dari meupakan preseden pandangan seperti yang diungkapkan Otto.</p>
<p>Baru lebih dari 30 tahun kemudian, saya mendengar langsung kisah di atas dari mulut si dosen sendiri – almarhumah Annemerie Schimmel. Kali ini si dosen, yang tentu telah menjadi jauh lebih matang dan lebih bijaksana, memperkaya pemahaman mahasiswanya dengan kritiknya terhadap pandangan sebagian ahli fenomenologi agama—seperti  Van der Leeuw—yang melihat Islam sebagai mewakili situasi yang pertama, yakni sebagai agama yang melihat Tuhan melulu sebagai “misteri yang menggentarkan”.</p>
<p>Schimmel, mewakili para ahli mengenai spiritualitas Islam (atau tasawuf) yang lebih belakangan, mendapati Islam sebagai agama yang tak kurang-kurang mempromosikan hubungan antara manusia dengan Tuhannya sebagai berorientasi cinta (<em>eros oriented religion</em>). Bahkan, bisa dikatakan,  Islam justru lebih memujikan orientasi cinta ketimbang orientasi yang didominasi rasa takut atau ketundukan pada hukum atau syari’at.</p>
<p>Menurut salah satu penelitian, bukan saja lebih banyak porsi dalam 99 nama Allah (<em>al-asmâ’ al-<span style="text-decoration:underline;">h</span>usnâ</em>) bagi nama-nama yang termasuk dalam aspek <em>jamâl </em>yang kesemuanya beporos pada cinta, seperti Maha Pengasih (<em>Al-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân</em>), Maha Penyayang (<em>Al-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm</em>) – dua sifat yang menyusun kalimat utama dalam peribadatan Islam, yakni <em>bismil-Lahir-Rahmanir-Rahim </em>&#8211; Maha Pencinta (<em>Al-Wadûd </em>), Maha Pemaaf (<em>Al-Ghafûr</em>), Maha Penyabar (<em>Al-Shabûr</em>), Maha Lembut (<em>Al-Lathîf </em>), dan seterusnya. Bahkan di dalam Al-Quran terdapat 5 kali lebih banyak ayat yang di dalamnya Dia menyebut dirinya dengan nama <em>jamâliyyah</em> ini ketimbang <em>jalâliyyah</em>. Sebagai contoh, menurut catatan kata-kata <em>Al-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>mân</em> dan <em>Al-Ra<span style="text-decoration:underline;">h</span>îm</em> dipergunakan sebanyak 124 kali dalam Al-Quran. Sementara kata-kata <em>ghadhab</em> (murka) dan bentuknya terdapat hanya 7 kali dalam seluruh kitab suci yang sama.</p>
<p>Dengan kata lain, Allah menampilkan dirinya—dan tak ada yang dapat menampilkan Allah lebih tepat dari diri-Nya sendiri—lebih sebagai Zat yang indah dan memesona serta menimbulkan cinta kasih, ketimbang sebagai suatu misteri dahsyat yang menggentarkan.</p>
<p>Kenyataan ini tentu sama sekali tak berarti bahwa kita harus mengabaikan penampilan Allah Swt. dalam segenap kedahsyatannya. Tapi, bahwa segenap kedahsyatan Allah itu—kemurkaan, kepemaksaan, janji pembalasan-Nya terhadap kejahatan makhluk, dan sebagainya—merupakan bagian dari kecintaan-Nya. Hal ini juga terungkap secara tegas dalam firman-Nya dalam sebuah hadis qudsi : <em>“Sesungguhnya kasih-sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku.” </em>Dengan kata lain, bukan saja murka Allah adalah demi kebaikan bagi manusia, tapi ia bersumber dari prinsip kasih-sayang-Nya.<em> </em>Mungkin tak beda dengan kemarahan orang tua kepada anak yang disayanginya.</p>
<p>Di dalam Al-Quran, Dia sendiri menyatakan sebagai “telah menetapkan atas-Diri-Nya sifat pengasih (rahmat),” serta mengajarkan bahwa rahmat-Nya <em>“seluas langit dan bumi</em>” dan “<em>meliputi segala sesuatu</em>.<em>” </em>Sejalan dengan itu, Nabi-Nya pernah mengabarkan kepada kita bahwa: <em>“Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya) satu yang ditebarkan-Nya ke atas alam semesta, dan itu sudah cukup untuk menanamkan kecintaan di hati para ibu kepada anak-anaknya.” </em></p>
<p>Sayangnya, dalam segenap kegentaran kita kepada kedahsyatan (<em>jalâl </em>) Allah Swt., banyak di antara kita sulit membayangkan bentuk hubungan cinta antara Yang Maha Segala dan makhluk ringkih bernama manusia ini. Paling banter, orang akan menafsirkannya sebagai sinonim dari keterikatan atau ketaatan seorang hamba (<em>‘abd </em>) yang takut kepada Tuhan (<em>Rabb</em>)-nya.</p>
<p>Untuk membuyarkan fiksasi kita tentang Allah yang menakutkan ini, Ibn ‘Arabî dalam karya-besarnya, <em>Fushûsh Al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ikam</em> menggambarkan hubungan cinta antara Allah dan manusia sebagai hubungan cinta antara manusia lelaki dan perempuan. (Inilah, kata Ibn ‘Arabî, sebagian hikmah hadis termasyhur Nabi Saw. mengenai kecintaan beliau kepada perempuan, di samping kepada shalat dan wangi-wangian). Artinya, kecintaan Allah kepada manusia—dan yang sebaliknya—adalah seperti cinta-kasih dua sejoli anak manusia yang asyik-masyuk (berasal dari kata-kata bahasa Arab <em>âsyiq-masyuk </em>yang merupakan bentukan dari kata <em>‘isyq</em>—berarti cinta, dan merupakan salah satu istilah kunci dalam tasawuf).</p>
<p>Di sisi lain, Al-Quran pun menegaskan bahwa seharusnya cintalah yang melandasi hubungan antara manusia dan Allah (lihat, antara lain, Al-Quran Surah Al-Mâ’idah [5]: 54; Al-Baqarah [2]: 165, 216). Inilah salah satunya:</p>
<p><em>“ … Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka mencintai-Nya.”</em>. Juga,</p>
<p><em>“Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah.”</em>.</p>
<p>Gagasan seperti ini menonjol terutama dalam tasawuf. Di kalangan kaum sufi, kita dapati sufi-sufi besar seperti Ibn ‘Arabî dan Ibn al-Faridh, serta Jalaluddin Rumi dikenal dengan pandangannya tentang cinta sebagai sumber kehidupan. Tentu saja juga perempuan Rabi‘ah Al-‘Adawiyyah. Sufi-perempuan ini dikenal dengan syair-syair menggetarkan yang menunjukkan hubungan cinta-kasih antara manusia dan Tuhan:</p>
<p><em>“Ya Allah,” demikian munajatnya di suatu malam, “saat ini gelap telah menyelimuti bumi. Lentera-lentera telah dimatikan, dan para manusia telah berdua-dua dengan kekasih-Nya. Maka, inilah aku, mengharapkan-Mu.”</em></p>
<p>Diriwayatkan, dia pernah ditemui orang berjalan di jalanan Kota Bagdad sambil membawa obor di salah satu tangannya, dan seember air di tangannya yang lain. Ketika ditanya orang tentang tujuannya, dia menjawab: “Aku akan membakar surga dengan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan seember air ini.” Memang Rabi‘ah juga dikenal luas dengan syairnya:</p>
<p><em>“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena berharap surgamu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut nerakamu, maka masukkan aku ke dalamnya. Tapi, jangan halangi aku dari melihat wajah-Mu.”</em></p>
<p>Munajat Rabi‘ah ini kiranya sejalan belaka dengan berbagai ujaran ‘Ali ibn Abi Thalib—sahabat dan penerima wasiat Nabi, guru para sufi awal, dan pangkal hampir semua silsilah tarekat—khususnya dalam bagian-bagian tertentu dalam Doa Kumail yang diajarkan kepadanya oleh Nabi sendiri :</p>
<p>“… kalaupun aku sabar menanggung beban-penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu … kalaupun aku, Wahai <em>Ilah-</em>ku, Tuanku, Sahabatku, dan <em>Rabb-</em>ku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana kubisa sabar menanggung perpisahan dengan-Mu &#8230; kalaupun aku bisa bersabar menanggung panas-neraka-Mu, bagaimana kubisa bersabar dari melihat kemuliaan-Mu ….”</p>
<p>Dalam konteks ini menjadi terpahamkan ketika, suatu kali, ‘Ali “menyayangkan” ibadah <em>a la</em> budak yang ketakutan, atau <em>a la</em> pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan, seraya memuji hubungan yang berlandaskan cinta.</p>
<p>Seolah menjelaskan maksud ujaran Bapaknya itu, Husain ibn ‘Ali menyeru: “… merugilah perdagangan seorang hamba yang tidak menjadikan cinta kepada-Mu sebagai bagiannya.”</p>
<p>Islam, terutama melalui tasawuf, mempromosikan jenis hubungan penuh cinta-kasih antara Tuhan dan manusia, antara <em>Khaliq</em> (Pencipta) dan <em>makhluq </em>(ciptaan), antara <em>Ma‘bûd</em> (Yang Disembah) dan <em>‘âbid </em>(hamba), dan seterusnya. Yakni ketika segenap kedirian serba-duniawi kita telah sirna oleh <em>mujâhadah </em>dan<em> </em>jiwa kita yang telah tersucikan kembali lebur (<em>fanâ’ </em>) dan tinggal tetap (<em>baqa</em>) menyatu dengan-Nya. Hubungan seperti ini adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual (<em>sulûk</em>) manusia (kembali kepada Allah).<em> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=495&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/islam-agama-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mystical Flight Jodi Foster, from Film CONTACT</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/mystical-flight-jodi-foster-from-film-contact/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/mystical-flight-jodi-foster-from-film-contact/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 05:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=493&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/mystical-flight-jodi-foster-from-film-contact/"><img src="http://img.youtube.com/vi/-ZhvBkrq6rU/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/493/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/493/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=493&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/mystical-flight-jodi-foster-from-film-contact/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sami Yusuf &#8211; You came to me (Arabic) &#8211; Ramadan 2009</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/sami-yusuf-you-came-to-me-arabic-ramadan-2009/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/sami-yusuf-you-came-to-me-arabic-ramadan-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 05:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musiqa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=491&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/sami-yusuf-you-came-to-me-arabic-ramadan-2009/"><img src="http://img.youtube.com/vi/kkQdRT6zU2k/2.jpg" alt="" /></a></span></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=491&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/27/sami-yusuf-you-came-to-me-arabic-ramadan-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sastrawan Radhar Panca Dahana Terima Kuntowijoyo Award 2009</title>
		<link>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/26/sastrawan-radhar-panca-dahana-terima-kuntowijoyo-award-2009/</link>
		<comments>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/26/sastrawan-radhar-panca-dahana-terima-kuntowijoyo-award-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 05:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Samantho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita hangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahmadina.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 25/08/2009 04:43 WIB Sastrawan Radhar Panca Dahana Terima Kuntowijoyo Award 2009 Irwan Nugroho &#8211; detikNews Jakarta &#8211; Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana terpilih sebagai penerima Kuntowijoyo Award 2009. Ini juga merupakan anugerah Kuntowijoyo Award untuk tahun pertama. &#8220;Kuntowijoyo Award adalah sebuah ikhtiar untuk menularkan dan menghidupkan semangat yang telah ditunjukkan oleh Kuntowijoyo almarhum,&#8221; &#8230; <a href="http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/26/sastrawan-radhar-panca-dahana-terima-kuntowijoyo-award-2009/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=487&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selasa, 25/08/2009 04:43 WIB<br />
Sastrawan Radhar Panca Dahana Terima Kuntowijoyo Award 2009<br />
<strong>Irwan Nugroho</strong> &#8211; detikNews</p>
<p><strong><a href="http://www.detiknews.com/images/content/2009/08/25/10/Kuntowijoyo.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.detiknews.com/images/content/2009/08/25/10/Kuntowijoyo.jpg" alt="" width="200" height="297" /></a>Jakarta</strong> &#8211; Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana terpilih sebagai penerima Kuntowijoyo Award 2009. Ini juga merupakan anugerah Kuntowijoyo Award untuk tahun pertama.</p>
<p>&#8220;Kuntowijoyo Award adalah sebuah ikhtiar untuk menularkan dan menghidupkan semangat yang telah ditunjukkan oleh Kuntowijoyo almarhum,&#8221; kata Penanggungjawab Penganugerahan Kuntowijoyo Award, Putut Widjanarko, dalam rilis yang diterima <strong>detikcom</strong>, Senin (24/8/2009).</p>
<p><span id="more-487"></span></p>
<p>Kuntowijoyo, wafat pada 22 Februari 2005, adalah salah seorang sejarawan dan dan sastrawan terkemuka di Indonesia. Doktor Ilmu Sejarah dari Columbia University, Amerika Serikat (AS), itu merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.</p>
<p>Pak Kunto, panggilan almarhum semasa hidupnya, banyak menulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra. Beberapa di antaranya yang sangat terkenal adalah Metodologi Sejarah (1994), Radikalisme Petani (1993), Mantra Pejinak Ular (2000), Khotbah di Atas Bukit (1976), naskah drama Rumput-Rumput Danau Bento (1968), Topeng Kayu (1973), novel Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966).</p>
<p>&#8220;Penghargaan ini akan dianugerahkan kepada para ilmuwan, intelektual, atau tokoh yang berprestasi dalam mengembangkan penelitian dan praktik berbagai cabang-cabang ilmu sosial dan humaniora, serta karya-karya kebudayaan,&#8221; jelas Widjanarko.</p>
<p>Menurut dia, Kuntowijoyo Award selanjutnya akan diselenggarakan oleh sebuah komite. Komite ini diketaui Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat dan beranggotakan kalangan intelektual seperti Azyumardi Azra, Anis Bawesdan, Haidar Bagir, Mochtar Pabotinggi, dan Helvy Tiana Rosa.</p>
<p>Adapun pertimbangan dipilihnya Radar sebagai penerima perdana anugerah ini, lanjut Widjanarko, telah berdasarkan penilaian dan pertimbangan yang cukup atas karya-karyanya. Radar juga telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan bermutu berupa esai, puisi, cerpen, dan kajian akademis. Minatnya mencakup teater, sastra, film, dan kebudyaan populer.</p>
<p>Karya-karya Radar antara lain Lalu Waktu (kumpulan puisi), Masa Depan Kesunyian (kumpulan cerpen), Homo Theatricus (esai), Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia (2001), dan Jejak Posmodernisme, Pergulatan Kaum Intelektual Indonesia (2002).</p>
<p>&#8220;Radar juga aktif membina dan mendorong komunitas-komunitas seni dan budaya. Ia mendirikan Teater Kosong, terlibat dalam pembuatan komik seri antikorupsi Mat Jagung bersama komunitas komik Akedemi Samali, dan membina komunitas sastra Bale Sastra,&#8221; cetus Widjanarko.</p>
<p>Sebagai penerima Kuntowijoyo Award, Radar berhak mendapatkan hadiah sebesar Rp 50 juta. Penghargaan ini akan diberikan hari ini di Teater Salihara, Jl Salihara No 16, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Penghargaan akan diberikan bersamaan dengan Konser Rockligius Ramadhan Ki Slamet Gundono.<br />
<strong>(irw/Rez)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Radar Panca Dahana Raih Kuntowijoyo Award</strong></p>
<p>Laporan: kompas.com</p>
<p>SELASA, 25 AGUSTUS 2009 | 21:45 WITA</p>
<p>JAKARTA, TRIBUN — Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari dan mengembangkan budayanya. Namun, ternyata para pejabat kita kerap menafikan bahkan menghancurkan budaya itu.</p>
<p>&#8220;Di saat pejabat negara berlaku seperti itu maka masyarakat harus ambil alih peran itu,&#8221; kata Radar Panca Dahana, seorang budayawan, setelah menerima Kuntowijoyo Award di Salihara Jakarta, Selasa (25/8). Kemudian, ia mengungkapkan bahwa kita semua adalah unit budaya. Kita bukan unit yang dapat dihitung dengan ekonomi secara matematis. &#8220;Kita entitas yang menciptakan realitas kita sendiri. &#8220;Kita mesti menerapkannya, bukan sekadar memikirkannya,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Menurut Prof Dr Komaruddin Hidayat, Ketua Komite Kuntowijoyo Award, sosok Radar dinilai melanjutkan semangat Kuntowijoyo yang sepanjang hidupnya memperjuangkan budaya di negeri ini. Penghargaan ini dilaksanakan tiap tahun yang diberikan kepada ilmuwan, penggiat ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta juga untuk para pekerja seni yang mampu mempersembahkan karya seninya dan memberikan pengaruh pada masyarakat luas serta budaya Indonesia. &#8220;Dan tokohnya mampu menginspirasi orang lain,&#8221; ucap Komaruddin, yang juga Rektor UIN Syarif Hidayatullah.</p>
<p>Berkat jasa dan perannya dalam bidang budaya, Radar berhak mendapat uang Rp 50 juta. &#8220;Semoga anugerah ini mendorong saya untuk terus berkarya,&#8221; tekad Radar Panca Dahana.(*)</p>
<p><a href="http://www.tribun-timur.com/" target="_blank">Tribun Timur, Selalu yang Pertama</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahmadina.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahmadina.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahmadina.wordpress.com&amp;blog=7995407&amp;post=487&amp;subd=majalahmadina&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahmadina.wordpress.com/2009/08/26/sastrawan-radhar-panca-dahana-terima-kuntowijoyo-award-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9fdd433b32ba2b410dd1e3e94f9fbc3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">samantho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.detiknews.com/images/content/2009/08/25/10/Kuntowijoyo.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
